FREEPIK

Kebahagiaan sesungguhnya datang dari kemampuan memaknai hidup dan nilai-nilai yang dijunjung.

Apa arti kebahagiaan? Figur publik Nana Mirdad melihat bahwa definisi kebahagiaan bisa berbeda bagi setiap orang. Nana juga mengaku sedikit khawatir dengan pola pikir yang terlalu berorientasi materialistis. “Agak worry dan merasa perlu lebih tekun lagi membimbing anak-anak untuk memahami arti bahagia itu apa, bahwa bukan hanya materi yang terlihat ada di mana-mana seperti sekarang,” kata Nana.

 

Nana mengaku selalu mensyukuri hal-hal kecil. Di mana pun kaki berpijak, di situlah kebahagiaan bisa dirasakan. Dia percaya bahwa orang tua bahagia dapat melahirkan anak yang juga bahagia. Istri dari Andrew White itu percaya energi kebahagiaan dapat ditularkan.

 

Perempuan 37 tahun itu bersama sang suami harus datang dengan satu suara saat menghadapi anak-anak. Tujuannya yang penting untuk kebaikan bersama.

 

Nana juga merasa harus pintar-pintar memilih kapan harus bersikap tegas atau masih memberi toleransi terhadap anak. Dengan lingkungan yang materialistis, sering kali Nana akan tegas mengatakan ‘tidak’ untuk permintaan tertentu. Sebaliknya, ada saatnya bisa nego sedikit dengan anak.

 

Diah Melani punya definisi sendiri tentang kebahagiaan. ‘’Bahagia saya sederhana saja. Lihat anak-anak bisa kumpul dengan ayahnya saja, saya sudah senang,’’ ujarnya saat ditemui akhir pekan lalu.

klara-kulikova/unsplash

Maklum saja, sang suami memang bekerja di luar kota dan hanya bisa berkumpul dengan keluarga di saat cuti yang waktunya pun terbatas. ‘’Momen kebersamaan keluarga itu kebahagiaan kami yang luar biasa,’’ kata perempuan yang bekerja di kawasan Kuningan, Jakarta, tersebut.

 

Di sisi lain, kita pun berhadapan dengan fenomena ‘flexing’ atau dengan kata lain memamerkan sesuatu secara berlebihan telah dianggap sebagai salah satu cara berbagi kebahagiaan. Namun, benarkah demikian?

 

Ratih Ibrahim MM, seorang psikolog klinis & CEO Personal Growth mengatakan kebahagiaan yang kerap dimaknai manusia umumnya selalu bersumber dari hal-hal yang bersifat materialistik.  Tetapi ternyata tidak semata-mata itu. “Ternyata sumber kebahagiaan utama bukan itu karena banyak yang datang ke tempat saya akibat dari kecil sudah cemas,” kata Ratih.

 

Kebahagiaan yang sesungguhnya datang dari bagaimana manusia memaknai hidup dan nilai-nilai yang dijunjung, serta mengupayakannya dalam keseharian.  Kebahagiaan memang bisa saja hadir dari prestasi akademis, kemapanan finansial, atau jabatan.

 

Namun, sering kali itu bersifat sementara. Adanya pandangan bahwa kebahagiaan hanya bersumber dari hal-hal yang bersifat materialistis tersebut justru dapat menyebabkan seseorang merasa kebahagiaan adalah sesuatu yang sulit atau bahkan mustahil dicapai.

Bahagia saya sederhana saja. Lihat anak-anak bisa kumpul dengan ayahnya saja, saya sudah senang.

Menurut hasil survei yang dilakukan oleh Personal Growth, aspek-aspek yang berkontribusi terhadap kebahagiaan seseorang memang lebih banyak pada materialistis. Hal itu meliputi, 90,4 persen memiliki rumah bagus, 83 persen kekayaan finansial, dan 66,2 persen prestasi akademik maupun profesional.

 

Definisi kebahagiaan bagi setiap orang boleh jadi berbeda. Padahal, Ratih mengatakan kebahagiaan yang sesungguhnya datang dari bagaimana manusia memaknai hidup dan nilai-nilai yang dijunjung, serta mengupayakannya dalam keseharian.

 

Kebahagiaan memang bisa saja hadir dari prestasi akademis, kemapanan finansial, atau jabatan. Namun, adanya pandangan bahwa kebahagiaan hanya bersumber dari hal-hal yang bersifat materialistis tersebut justru dapat menyebabkan seseorang merasa kebahagiaan adalah sesuatu yang sulit atau bahkan mustahil dicapai.

 

Selain itu, pemaknaan dan nilai-nilai mengenai kebahagiaan ini penting dibangun sejak masa anak-anak. Semakin dini usia anak, semakin baik. Orangtua dan guru memiliki peran yang begitu penting dalam proses membangun pondasi kebahagiaan ini. “Dengan demikian, seluruh aspek perkembangan anak (kognitif, fisik, sosial dan emosional) akan berkembang secara optimal, anak lebih resilien, dan bahagia hingga masa dewasanya nanti.” kata Ratih.

 

Kebahagiaan menjadi tujuan hidup hampir semua orang. Setiap orang mendefinisikan bahagia secara berbeda. Ratih mengungkapkan banyak yang menganggap prestasi akademis sebagai sumber utama kebahagiaan, lalu melimpahnya materi dengan memiliki rumah, mobil mewah dan lainnya.

 

Tetapi pada kenyataannya, banyak yang justru merasa cemas dan depresi sejak usia anak-anak karena merasa tertekan. Begitu juga melimpahnya materi tidak selalu menjamin kebahagiaan seseorang.  “Ternyata bahagia bukan hanya terberi tapi juga bisa diusahakan,” kata Ratih.

 

mi pham/unsplash

Banyak orang tua mencecar anak agar mereka pintar. Pencapaian akademis menjadi tolok ukur pertama orang tua. Menurut Ratih Ibrahim MM, Clinical Psychologist, faktanya, dari sebuah temuan menunjukan bahwa kontribusi prestasi ini tidak terlalu signifikan pengaruhnya terhadap kebahagiaan.

 

Prestasi memang adalah sesuatu yang baik, tetapi sering kali kebahagiaan saat meraihnya ini bersifat sementara. Mendorong prestasi tidak hanya bisa dengan tekanan. “Bahagia, bangganya cuma sebentar, (namun) datang ke psikolog, karena stres, penuh kecemasan,” kata Ratih.

 

Alih-alih mencecar dan menekan, Ratih menyebutkan, untuk mendorong anak agar berprestasi sekaligus bahagia, perlakukan mereka layaknya orang yang perlu merasakan kebahagiaan. Dorong mereka berprestasi dengan cara yang membahagiakan dari orang tua.

 

Saat ini ada juga fenomena bahwa jumlah followers media sosial menentukan kesehatan mental. Masalah untuk kesejahteraan, gangguan panik, depresi, gangguan serius, saling terkorelasi dan banyak dialami sejak usia muda.

unsplash

Orang tidak bahagia akan sulit untuk produktif. Isu kesehatan mental dilihat Ratih semakin banyak dialami usia muda. Mereka jadi lebih sulit menjadi pribadi tangguh dan bergembira. Jika yang diterima anak adalah ketidakbahagiaan, maka hal serupa jugalah yang akan dilakukannya kepada orang lain.

 

Sebaliknya, anak yang bahagia, akan lebih banyak berteman, kooperatif, energinya sama, tidak menarik diri, tumbuh dengan bahagia. Jika mereka banyak melakukan hal yang bahagia, daya kreatif mereka otomatis semakin bagus. “Mungkin akademisnya bukan nomor satu tapi logikanya jalan, yang penting bikin anak gembira,” ujar Ratih.

 

Untuk menjadi pribadi yang unggul, bukan hanya didukung kognitif anak, tapi juga kesehatan mental. Saat anak murung, arahnya bisa kepada gangguan kesehatan mental. Sementara resiliensinya akan kuat saat anak bahagia dalam menikmati hidup.

 

Anak-anak yang bahagia akan terlihat dari ekspresi wajah, mereka akan banyak tersenyum, tertawa. Kebahagiaan akan membuat proses tumbuh kembangnya lebih optimal. “Kalau lihat pada pasien yang papa mamanya asyik, relasinya bagus, cinta dalam keluarga kuat, akan mempengaruhi karakter anak,” lanjut Ratih.

Karena ketika bahagia, sel-selnya akan berkembang. Saat merasa cemas, takut sel otaknya justru akan berkerut.

Karena itu adalah bekal untuk masa depan jadi manusia dewasa lebih utuh. Sebab persepsi tentang diri dan orang lain jadi lebih positif bahwa dirinya merasa berharga. Dia akan lebih percaya diri, mampu bersosialisasi, dan kerja sama.

 

Sementara anak yang kurang bahagia akan sering rewel, serta susah diajak bergaul. Anak yang bahagia juga bisa jadi populer karena senang dengan dirinya. Anak ini punya perilaku baik, mau menolong, tumbuh dengan kreatif. ‘’Karena ketika bahagia, sel-selnya akan berkembang. Saat merasa cemas, takut sel otaknya justru akan berkerut,’’ kata Ratih.

 

Anak yang kreatif punya daya kognitif yang bagus, punya rumah lebih lebar untuk berkembang. Saat menghadapi perpecahan masalah, anak yang bahagia punya daya untuk menghadapinya secara lebih baik.

 

 Anak yang bahagia bisa mengembalikannya kepada orang tua sehingga menciptakan timbal balik yang bagus. ''Bagi anak yang bahagia, mereka sudah bukan bicara bagaimana mengobati luka, tetapi bicara apa yang akan dilakukan selanjutnya untuk mengoptimalkan potensi mereka,'' ujar Ratih.

top

Anak Pun Berhak Bahagia

Jangan Lupa

Bahagia